Apa senjata rahasia AS untuk lawan Iran?

Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan membatalkan rencana serangan militer terhadap Iran setelah mempertimbangkan kemajuan diplomatik, hambatan logistik, serta penolakan signifikan dari sekutu utama di kawasan Timur Tengah.

Advertisements

Laporan Axios pada Minggu (18/1) menyebut situasi saat itu berada pada titik yang sangat genting. Militer Amerika Serikat disebut telah berada dalam posisi siap melakukan operasi dengan sangat cepat.

Sejumlah pemerintah dan negara di Timur Tengah bahkan memperkirakan serangan akan segera dilakukan setelah pertemuan tingkat tinggi pada hari Selasa. Namun hingga waktu yang diperkirakan, perintah dari Gedung Putih tidak pernah dikeluarkan.

Meski telah dibatalkan, para analis dunia politik tetap menimbang kemungkinan senjata rahasia yang mungkin akan digunakan AS seandainya perang melawan iran terjadi. 

Advertisements

Baca juga:

  • Wawancara Dubes Iran: Situasi Terkini di Tengah Protes dan Ancaman AS
  • Starlink Down Imbas Teknologi Rusia, Prancis Kaji Kirim Satelit Eutelsat ke Iran
  • Kerusakan Lamun dan Ancaman Emisi Karbon dari Perairan Pesisir

Senjata Rahasia AS yang Kemungkinan Dipakai Melawan Iran

Pada tahun lalu, pemerintahan Trump menggembar-gemborkan pengeboman situs nuklir Iran sebagai salah satu keberhasilan militer terbesarnya. Pesawat pengebom siluman B-2 menjatuhkan 14 bom terbesar di dunia dan menghantam dua instalasi nuklir utama. Operasi tersebut berlangsung tanpa korban jiwa maupun kehilangan pesawat dari pihak Amerika.

Kini, Presiden Trump kembali melontarkan ancaman serangan terhadap Iran. Ancaman itu diklaim sebagai bentuk solidaritas terhadap ratusan ribu warga Iran yang turun ke jalan menentang rezim di Teheran.

Menurut para analis, serangan baru Amerika Serikat terhadap Iran tidak akan meniru pola serangan tunggal ke fasilitas nuklir. Operasi yang dikaitkan dengan dukungan terhadap demonstran dinilai memerlukan sasaran berbeda. Fokusnya bergeser ke pusat kekuasaan dan alat penindakan negara.

senjata rahasia AS (unsplash.com)  

Target yang disebut mencakup pusat komando Korps Garda Revolusi Iran, pasukan Basij yang berafiliasi dengannya, serta kepolisian Iran. Ketiga entitas tersebut dipandang sebagai pilar utama dalam meredam demonstrasi.

Sebagian besar pusat komando tersebut berada di kawasan padat penduduk. Kondisi ini meningkatkan risiko korban sipil secara signifikan. Para analis memperingatkan bahwa kesalahan sasaran dapat menjadi bumerang politik.

Carl Schuster, analis militer berbasis Hawaii dan mantan kapten Angkatan Laut Amerika Serikat, menekankan pentingnya presisi. Ia menyebut setiap tindakan harus sangat tepat dan tanpa korban di luar pasukan Iran. Korban sipil, meski tidak disengaja, dinilai dapat mengasingkan para pembangkang.

Schuster menambahkan bahwa kerugian sipil berpotensi mengubah citra Amerika Serikat. Alih-alih dipandang sebagai pengaruh yang membebaskan, Amerika bisa dilihat sebagai kekuatan asing yang menekan. 

Senjata yang Berpotensi Digunakan

Jika opsi militer diaktifkan, jenis senjata yang digunakan diperkirakan berbeda dari sebelumnya.Meski B-2 menjadi ujung tombak serangan nuklir tahun lalu, target baru dinilai lebih cocok diserang dengan sistem lain. Perubahan ini mencerminkan evolusi senjata rahasia AS.

  • Rudal jelajah Tomahawk menjadi salah satu opsi utama. Rudal ini dikenal sangat akurat dan mampu menghantam target darat dari jarak jauh. Tomahawk dapat diluncurkan dari kapal selam maupun kapal perang permukaan. Peluncuran Tomahawk dilakukan jauh dari pantai Iran. Cara ini meminimalkan risiko korban di pihak Amerika Serikat. Kemampuan terbang rendah juga membuat rudal ini sulit dideteksi radar.
  • Opsi lain adalah Joint Air-to-Surface Standoff Missile atau JASSM.Rudal ini membawa hulu ledak penetrasi sekitar 500 kilogram. Jangkauannya mencapai 1.000 kilometer sehingga memungkinkan serangan dari luar wilayah udara IranJASSM dapat ditembakkan dari berbagai pesawat Angkatan Udara Amerika Serikat. Platform pembawanya meliputi F-15, F-16, F/A-18, dan jet tempur siluman F-35. Selain itu, pesawat pengebom B-1, B-2, dan B-52 juga mampu membawanya.
  • Para analis juga menilai drone bersenjata berpotensi besar digunakan. Ini karena penggunaan pesawat berawak untuk bom jarak pendek dinilai terlalu berisiko. Drone memungkinkan serangan presisi tanpa menempatkan pilot dalam bahaya.

Alasan Perhentian Serangan Terhadap Iran

Utusan Amerika Serikat Steve Witkoff dilaporkan menerima pesan rahasia dari Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi. Dalam komunikasi itu, Teheran berkomitmen menghentikan pembunuhan serta menunda eksekusi demonstran yang sebelumnya dijadwalkan.

Tekanan juga datang dari sekutu regional Washington. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memperingatkan bahwa Israel belum siap menghadapi pembalasan Iran. Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman pun menyampaikan kekhawatiran mendalam terkait stabilitas kawasan.

Meski rencana serangan dibatalkan, Trump tetap menyatakan dukungan terhadap demonstran Iran. Ia juga mengkritik keras penanganan pemerintah Teheran atas demonstrasi yang pecah sejak akhir Desember akibat tekanan ekonomi.

Advertisements