BI dorong penurunan suku bunga dana dan kredit, ini caranya

Bisnis.com, JAKARTA — Bank Indonesia (BI) menyampaikan upaya penurunan suku bunga dana dan kredit perbankan masih perlu ditingkatkan supaya dapat mendorong pertumbuhan kredit, guna mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Advertisements

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan upaya tersebut dapat dilakukan dengan koordinasi dalam mengurangi pemberian special rate kepada deposan besar.

“Yang saat ini mencapai 26,3% dari total DPK [Dana Pihak Ketiga],” katanya dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) April 2026, Rabu (22/4/2026).

: Breaking! BI Kembali Tahan Suku Bunga Acuan di 4,75% dalam RDG April 2026

Advertisements

Perry menegaskan bahwa transmisi pelonggaran kebijakan moneter terhadap penurunan suku bunga masih berlanjut. Saat ini, berbagai suku bunga perbankan masih dalam tren menurun, didukung oleh kondisi likuiditas yang longgar.

Dia menyebut, suku bunga deposito satu bulan turun sebesar 62 basis poin dari 4,81% pada awal Januari 2025 menjadi 4,19% pada Maret 2026. 

: : Ramalan BI untuk Kredit Perbankan 2026 saat Dolar Menguat

“Sementara itu, suku bunga kredit tercatat turun sebesar 44 basis poin dari 9,2% pada awal Januari 2025 menjadi 8,76% pada Maret 2026,” tuturnya.

Di lain sisi, Perry melaporkan bahwa pertumbuhan jumlah uang beredar tetap terjaga sejalan dengan kebijakan ekspansi likuiditas yang ditempuh Bank Indonesia. Pertumbuhan uang primer (M0) pada Maret 2026 tetap tinggi sebesar 11,8% (year on year/YoY).

: : Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.181 per Dolar AS usai BI Rate Ditahan

Dari komponennya, pertumbuhan M0 pada Maret 2026 terutama dipengaruhi oleh Giro Bank Umum di Bank Indonesia yang tumbuh sebesar 38,3% dan uang kartal yang tumbuh sebesar 8,6%.

“Dari faktor yang memengaruhi pertumbuhan M0 pada Maret 2026 didorong oleh ekspansi fiskal dan strategi operasi moneter. Sejalan dengan itu, uang beredar dalam arti luas atau M2 pada Februari 2026 tumbuh sebesar 8,7% YoY setelah pada Januari 2026 tumbuh sebesar 10%,” sebut Perry.

Dia menjelaskan bahwa faktor yang memengaruhi pertumbuhan M2 terutama disebabkan oleh tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat dan penyaluran kredit. 

“Ke depan pertumbuhan uang beredar akan terus dikelola, sehingga tetap konsisten dengan supaya menjaga stabilitas dan turut mendukung pertumbuhan ekonomi melalui sinergi kebijakan Bank Indonesia dan pemerintah,” pungkasnya.

Advertisements