
PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk (PACK) resmi kedatangan investor kakap. Pengusaha asal Batulicin, Kalimantan Selatan, yang dikenal sebagai crazy rich Kalimantan, Andi Syamsuddin Arsyad atau Haji Isam, baru saja melakukan aksi borong saham emiten sektor nikel tersebut dalam jumlah fantastis.
Berdasarkan keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu (13/5), Haji Isam tercatat mengakuisisi sebanyak 6,83 miliar lembar saham PACK dengan harga Rp 137 per saham. Langkah strategis ini membuat Haji Isam kini menguasai 21,12% hak suara di PACK, sebuah kepemilikan yang sebelumnya sama sekali tidak ia miliki. Ia menegaskan bahwa status kepemilikan saham tersebut bersifat langsung dengan tujuan investasi.
Respons pasar terhadap aksi korporasi ini pun sangat impresif. Harga saham PACK langsung melesat hingga mencapai auto reject atas (ARA) sebesar 9,86% ke level Rp 312 per saham. Dengan kenaikan tersebut, kapitalisasi pasar perusahaan menyentuh angka hampir Rp 10,10 triliun. Secara performa, saham PACK memang sedang dalam tren positif dengan lonjakan 70,33% secara year to date (ytd) dan penguatan 38% dalam satu bulan terakhir.
Di balik pergerakan harganya yang atraktif, saham PACK sempat beberapa kali terkena penghentian sementara perdagangan (suspensi) oleh pihak bursa. Tercatat, suspensi terjadi pada periode 20–24 Januari, 30–31 Januari, 3–5 Februari, 12 Juni, 17–20 Juni, serta 23–26 Juni 2025. Manajemen PACK menjelaskan bahwa langkah suspensi tersebut merupakan mekanisme bursa untuk meredam volatilitas akibat peningkatan harga saham yang signifikan, sekaligus sebagai upaya perlindungan bagi para investor.
Meski menghadapi dinamika perdagangan yang cukup tinggi, perseroan tetap menatap masa depan dengan optimisme. Merujuk pada realisasi kinerja sepanjang 2025, manajemen PACK menetapkan target yang lebih terukur untuk tahun 2026 dengan proyeksi volume perdagangan bijih nikel mencapai sekitar 4 juta ton nikel metal. Fokus utama perusahaan ke depan adalah memperkuat posisi di rantai nilai nikel melalui optimalisasi operasional serta berbagai inisiatif pengembangan usaha.
Manajemen melihat peluang pertumbuhan bisnis pada 2026 masih terbuka lebar. Optimisme ini didorong oleh permintaan nikel yang tetap tangguh dari berbagai sektor industri, mulai dari baterai kendaraan listrik (EV), stainless steel, hingga beragam industri alloy lainnya. Tercatat, permintaan nikel untuk sektor baterai sepanjang 2025 diperkirakan telah melampaui 400 ribu ton nikel metal.
Angka permintaan tersebut diproyeksikan terus meningkat pada 2026, seiring dengan perkembangan pesat teknologi baterai berkadar nikel tinggi, eVTOL, robot humanoid, dan kendaraan listrik. Dalam skala jangka panjang, permintaan nikel global bahkan diprediksi melonjak dari sekitar 3,5 juta ton pada 2025 menjadi lebih dari 5 juta ton pada 2040. Pertumbuhan ini akan terus ditopang oleh kebutuhan masif di sektor energi bersih, konstruksi, manufaktur, hingga pengembangan aplikasi berbasis alloy.
“Kondisi ini memberikan prospek yang positif bagi industri nikel dan rantai pasoknya,” ungkap manajemen PACK dalam laporan tahunannya, menegaskan keyakinan perusahaan terhadap potensi pasar nikel di masa depan.
Ringkasan
Pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad, yang dikenal sebagai Haji Isam, resmi mengakuisisi 6,83 miliar lembar saham PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk (PACK) dengan harga Rp 137 per saham. Langkah investasi ini menjadikan Haji Isam sebagai pemegang 21,12% hak suara di perusahaan nikel tersebut. Aksi korporasi ini mendapat respons positif dari pasar hingga memicu kenaikan harga saham PACK ke level auto reject atas (ARA).
Di balik dinamika harga yang sempat memicu suspensi perdagangan oleh pihak bursa, manajemen PACK tetap optimis menatap prospek bisnis pada tahun 2026. Perusahaan menargetkan volume perdagangan bijih nikel mencapai 4 juta ton, didorong oleh tingginya permintaan dari sektor baterai kendaraan listrik dan industri berbasis nikel lainnya. Fokus utama perseroan kini diarahkan pada optimalisasi operasional guna memperkuat posisi di rantai nilai nikel global.