IHSG Diprediksi Volatil, Pasar Menanti Pidato Prabowo dan Keputusan BI Rate

JAKARTA — Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan masih akan dibayangi volatilitas tinggi pada perdagangan Rabu (20/5/2026). Para pelaku pasar saat ini tengah menanti pidato Presiden Prabowo Subianto serta hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia terkait kebijakan suku bunga acuan.

Advertisements

Sebelumnya, pada perdagangan Selasa (19/5/2026), IHSG ditutup melemah signifikan sebesar 3,46 persen ke level 6.370,68. Tekanan jual yang masif menyeret hampir seluruh sektor, terutama sektor material dasar yang anjlok hingga 7,3 persen. Di tengah sentimen negatif tersebut, hanya sektor kesehatan yang mampu bertahan di zona hijau dengan penguatan tipis sebesar 0,55 persen.

Tim riset Phintraco Sekuritas mengungkapkan bahwa pelemahan tajam ini dipicu oleh aksi jual investor pasca-munculnya rumor mengenai rencana pemerintah untuk membentuk badan khusus yang akan mengatur ekspor komoditas strategis nasional. Beberapa komoditas yang disinyalir masuk dalam skema tersebut meliputi batu bara, crude palm oil (CPO), hingga mineral logam.

Baca Juga: IHSG Ditutup Melemah ke 6.370, Menanti Putusan BI Rate

Advertisements

“Rumor tersebut memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi pengendalian harga jual yang dapat menekan marjin laba emiten-emiten berbasis komoditas,” tulis tim riset dalam laporannya pada Selasa (19/5/2026).

Baca Juga: Spekulasi Badan Ekspor Bayangi IHSG, Pejabat ESDM Sebut Begini

Sentimen pasar semakin diperketat dengan agenda kehadiran Presiden Prabowo dalam Rapat Paripurna DPR pada Rabu (20/5/2026). Presiden dijadwalkan menyampaikan pidato mengenai Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) RAPBN 2027. Agenda ini menjadi sorotan utama karena untuk pertama kalinya dokumen KEM-PPKF disampaikan langsung oleh kepala negara, berbeda dengan tradisi sebelumnya yang lazim dipaparkan oleh Menteri Keuangan.

Baca Juga: OJK Sebut Pelemahan IHSG ke Level 6.396,26 Masih dalam Tahap Wajar

Selain mencermati arah kebijakan fiskal pemerintah, investor juga memantau hasil RDG Bank Indonesia. Konsensus pasar memperkirakan bank sentral akan menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5 persen sebagai langkah strategis untuk meredam tekanan pelemahan rupiah.

Kebijakan suku bunga ini diprediksi memberikan sentimen campuran bagi pasar saham. Di satu sisi, kenaikan suku bunga dapat menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, namun di sisi lain berisiko membebani likuiditas serta menurunkan minat investasi pada aset berisiko. Selain kebijakan moneter, pelaku pasar juga akan mengamati data pertumbuhan kredit perbankan periode April 2026 yang diperkirakan tumbuh 9,7 persen secara tahunan (YoY), meningkat dari capaian Maret 2026 sebesar 9,49 persen YoY.

Mengingat kombinasi sentimen tersebut, IHSG diperkirakan masih akan bergerak fluktuatif pada perdagangan besok. Investor disarankan untuk tetap waspada, terutama terhadap saham-saham berbasis komoditas dan sektor yang sangat sensitif terhadap perubahan suku bunga.

_____

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan sebagai ajakan untuk membeli atau menjual instrumen saham tertentu. Keputusan investasi sepenuhnya merupakan tanggung jawab pribadi investor. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Ringkasan

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi akan terus mengalami volatilitas tinggi pada perdagangan Rabu (20/5/2026). Sentimen negatif ini dipicu oleh aksi jual investor akibat rumor pembentukan badan khusus ekspor komoditas yang dikhawatirkan menekan marjin laba emiten, setelah sebelumnya indeks melemah signifikan sebesar 3,46 persen pada sesi perdagangan sebelumnya.

Selain sentimen komoditas, pelaku pasar sedang menanti pidato Presiden Prabowo Subianto mengenai kebijakan fiskal serta hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia terkait suku bunga acuan. Konsensus pasar memperkirakan BI akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin untuk meredam pelemahan rupiah, yang berpotensi memengaruhi likuiditas dan minat investasi di pasar saham.

Advertisements