Babaumma JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali sesi perdagangan terakhir tahun 2025 dengan pelemahan signifikan. Pada Selasa, 30 Desember 2025, IHSG dibuka di level 8.627,40, menandai sentimen negatif yang mendominasi bursa saham Indonesia. Tekanan jual terlihat jelas pada saham-saham emiten emas seperti PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) dan PT Darma Henwa Tbk. (DEWA), yang keduanya tergelincir ke zona merah. Kondisi serupa juga dialami oleh emiten perbankan berkapitalisasi jumbo, yakni PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. (BBRI) dan PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA).
Berdasarkan data yang dihimpun oleh RTI Infokom, tepat pada pukul 09.00 WIB, IHSG berada di posisi 8.627,40. Sesaat setelah pembukaan, pergerakan indeks terpantau volatil dalam rentang 8.597,07 hingga 8.629,43. Dinamika pasar pada pagi hari ini mencatat 258 saham menguat, sementara 156 saham melemah, dan 241 saham lainnya bergerak stagnan di tempat. Total kapitalisasi pasar IHSG tercatat sebesar Rp15.792 triliun, mencerminkan nilai pasar yang substansial di penghujung tahun perdagangan. Kondisi ini dapat diamati lebih lanjut melalui grafik pergerakan IHSG hari ini yang menunjukkan dinamika pasar pada perdagangan terakhir 2025 di Bursa Efek Indonesia.
Penurunan tajam menghampiri saham-saham unggulan. Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk. (BBRI) terpantau anjlok ke zona merah, mengalami koreksi hingga 3,44% dan mencapai level Rp3.650 per saham. Aktivitas perdagangan BBRI cukup tinggi dengan 25,6 juta saham diperdagangkan sesaat setelah pembukaan, menghasilkan nilai transaksi mencapai Rp94,1 miliar. Sementara itu, PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) juga tidak luput dari tekanan jual, turun 0,62% ke level Rp7.975.
Tak hanya sektor perbankan, emiten di sektor pertambangan dan emas juga menghadapi koreksi. Saham PT Darma Henwa Tbk. (DEWA) melemah 1,45% pagi ini, turun ke level Rp680 per saham. Senada dengan itu, saham PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) turut merosot 3,64% ke level Rp3.180 per saham pada sesi pagi. Pergerakan saham-saham ini menjadi perhatian di tengah kabar divestasi saham seperti kasus Jimmy Budiarto yang menjual rugi saham J Resources (PSAB) dan meraup Rp83,34 miliar.
Selain saham-saham tersebut, beberapa emiten lain juga mencatat penurunan. Saham PT Adaro Energy Indonesia Tbk. (ADRO) terpantau anjlok 6,43% ke level Rp1.820. Kemudian, PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) juga melemah 3,93% dan ditutup pada level Rp1.100 per saham.
Analisis dari Retail Research CGS International Sekuritas menguraikan beberapa katalis negatif yang menekan kinerja IHSG. Terkoreksinya mayoritas indeks di Wall Street akibat tekanan aksi jual pada saham-saham teknologi, pelemahan harga komoditas global, serta berlanjutnya depresiasi nilai tukar rupiah terhadap Dolar AS, semuanya diperkirakan menjadi faktor pendorong penurunan Indeks Harga Saham Gabungan. Selain itu, isu nasionalisasi kebun sawit ilegal juga menambah ketidakpastian bagi pelaku bisnis yang menuntut kejelasan status hukum.
Kendati demikian, CGS International Sekuritas juga mencatat adanya potensi katalis positif. “Di sisi lain, aksi net buy asing dengan nilai yang cukup jumbo di perdagangan kemarin berpotensi menjadi katalis positif,” demikian penjelasan dari CGS International Sekuritas. Meskipun ada sentimen positif ini, CGS International Sekuritas memperkirakan IHSG hari ini akan bergerak bervariasi cenderung melemah, dengan kisaran support di level 8.562-8.475 dan resistance pada level 8.730-8.811.
—
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.