JAKARTA – Pasar saham Indonesia dilanda gejolak signifikan pada pekan terakhir Januari 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat terperosok 6,94%, mengakhiri periode 26 hingga 30 Januari 2026 pada level 8.329,60. Penurunan tajam ini turut menggerus kapitalisasi pasar bursa, yang menguap hingga Rp1.198 triliun hanya dalam sepekan.
Turbulensi di pasar saham Tanah Air ini dipicu oleh sentimen dari Morgan Stanley Capital International (MSCI). Setelah merampungkan konsultasi terkait penilaian free float saham-saham Indonesia, MSCI secara resmi memutuskan untuk memberlakukan pembekuan rebalancing indeks MSCI bagi saham-saham Indonesia. Keputusan ini menjadi pukulan telak bagi kepercayaan investor di awal tahun.
Dalam pengumuman resminya pada Selasa (27/1/2026), MSCI menjelaskan bahwa meskipun terdapat perbaikan minor pada data free float yang disampaikan oleh Bursa Efek Indonesia (BEI), para investor masih melihat adanya masalah mendasar terkait keterbukaan kepemilikan saham di Indonesia. Kendala transparansi ini menjadi sorotan utama MSCI.
Lebih lanjut, MSCI menegaskan bahwa kebijakan interim tersebut bertujuan untuk membatasi perputaran indeks dan risiko investabilitas. Langkah ini juga dimaksudkan untuk memberikan waktu bagi otoritas terkait agar dapat meningkatkan transparansi struktur kepemilikan saham secara lebih granular dan mendalam. Harapannya, otoritas dapat merespons isu ini dengan perbaikan fundamental.
Sekretaris Perusahaan Bursa Efek Indonesia (BEI) Kautsar Primadi Nurahmad mengonfirmasi bahwa selama sepekan, IHSG ditutup mengalami perubahan 6,94%, bergerak dari posisi 8.951,01 pada pekan sebelumnya menjadi 8.329,60. Kautsar juga menyoroti volatilitas yang sangat tinggi pada pekan tersebut, yang bahkan menyebabkan IHSG mengalami dua kali pembekuan perdagangan sementara atau trading halt.
Trading halt pertama terjadi pada Rabu (28/1/2026) pukul 13.43–14.13 WIB setelah IHSG anjlok 8%. Tak berselang lama, trading halt kedua kembali diberlakukan pada Kamis (29/1/2026) pukul 09.26, juga selama 30 menit, setelah IHSG kembali terjun bebas 8%. Kondisi ini menggambarkan tekanan jual yang sangat masif di pasar.
Dampak dari sentimen negatif tersebut juga terlihat jelas pada kapitalisasi pasar Bursa, yang turun signifikan sebesar 7,37%. Angkanya menyusut menjadi Rp15.046 triliun dari Rp16.244 triliun pada pekan sebelumnya, mencatat kerugian sebanyak Rp1.198 triliun dalam kurun waktu sepekan.
Namun, di tengah tekanan penurunan, ada data menarik dari aktivitas transaksi. Kautsar Primadi Nurahmad menambahkan, pada Jumat (31/1/2026), terjadi peningkatan tertinggi pada rata-rata nilai transaksi harian BEI, yakni sebesar 29,28%, mencapai Rp43,76 triliun dari Rp33,85 triliun pada pekan sebelumnya. Ini menunjukkan meskipun harga jatuh, aktivitas perdagangan tetap tinggi.
Rata-rata frekuensi transaksi harian Bursa pada pekan tersebut juga mengalami peningkatan sebesar 1,59%, mencapai 3,82 juta kali transaksi, naik dari 3,76 juta kali transaksi pada pekan lalu. Kontras dengan peningkatan nilai dan frekuensi, data volume transaksi harian Bursa pekan ini justru mengalami sedikit perubahan, turun 3,69% menjadi 63,3 miliar lembar saham dari 65,73 miliar lembar saham pada pekan sebelumnya.
Aktivitas investor asing menunjukkan tren jual bersih. Pada Jumat (31/1/2026), investor asing mencatatkan nilai jual bersih sebesar Rp1,53 triliun. Secara kumulatif sepanjang tahun 2023, investor asing tercatat melakukan jual bersih sebesar Rp9,88 triliun.
Di sisi lain, BEI mencatat pertumbuhan positif pada jumlah investor pasar modal Indonesia. Per akhir Januari 2026, jumlah single investor identification (SID) telah mencapai 21.037.426. Angka ini merupakan penambahan sebanyak 673.218 SID dibandingkan posisi akhir 2025 yang tercatat 20.364.208 SID. Sepanjang tahun 2025 sendiri, jumlah investor telah mengalami pertumbuhan impresif sebanyak 5.492.569 SID.
Pertumbuhan investor juga terlihat jelas pada segmen saham. Jumlah investor saham kini hampir menyentuh angka 9 juta SID, tepatnya mencapai 8.980.318 SID. Angka ini meningkat 367.958 SID dibandingkan akhir 2025 yang berada di level 8.612.360 SID, setelah sepanjang tahun 2025 berhasil menambah sebanyak 2.230.916 SID.