
Matta Cinema Production mengumumkan enam proyek film ambisius di ajang Asian Content and Film Market (ACFM), bagian dari Busan International Film Festival (BIFF) ke-30 di Busan, Korea Selatan. Keenam film ini, yang akan diproduksi antara tahun 2025 hingga 2028, memiliki anggaran beragam, mulai dari US$ 440.000 (sekitar Rp 7,3 miliar dengan kurs Rp 16.651 per US$) hingga US$ 1,1 juta (sekitar Rp 18,3 miliar). Menariknya, beberapa proyek telah mendapatkan suntikan dana investasi dari Indonesia.
CEO dan produser Matta Cinema Production, Nugroho Dewanto, menjelaskan bahwa partisipasi mereka di Busan bertujuan untuk membuka peluang kolaborasi internasional. Meskipun 80 persen film akan menyasar penonton Indonesia, Matta Cinema aktif menjalin kerja sama di bidang investasi, distribusi, dan penjualan film dengan berbagai perusahaan internasional. “Kami menjajaki kerjasama investasi, distribusi dan penjualan film dengan beberapa perusahaan dari berbagai negara,” ungkap Nugroho Dewanto dalam siaran pers, Minggu (21/9).
Dengan tema “True Stories of Indonesia: From Local Roots to Global Screen,” Matta Cinema Production, rumah produksi asal Yogyakarta, berkolaborasi dengan Tempo Media Group untuk menghadirkan tiga film drama kriminal berbasis kisah nyata yang diangkat dari investigasi jurnalistik Majalah Tempo. Ketiga film, yang masing-masing dianggarkan sebesar US$ 600.000 (sekitar Rp 10 miliar), dijadwalkan untuk produksi pada tahun 2026 hingga 2028, bekerja sama dengan Pal8 Pictures, anak perusahaan Tempo.
Pintu Kanjuruhan (The Doors of Kanjuruhan), yang mengisahkan tragedi sepak bola Stadion Kanjuruhan, Malang, dengan korban jiwa mencapai 131 orang, akan disutradarai oleh Razka Robby Ertanto, pemenang Big Screen Competition di International Film Festival Rotterdam 2024. Kemudian, Malam Alia (The Longest Night), adaptasi kasus perundungan yang berkaitan dengan kematian seorang mahasiswi kedokteran di Semarang, akan diarahkan oleh Pritagita Arianegara, nomine Best Asian Future Section Award di Tokyo International Film Festival 2016. Terakhir, Kampung Harapan (Village of the Hopefuls), yang mengangkat isu perjudian online di Indonesia, akan disutradarai oleh sineas kawakan Garin Nugroho.
“Kami ingin mengangkat kisah-kisah yang menyentuh publik melalui medium film untuk mendorong perubahan nyata di Indonesia sekaligus menjangkau penonton yang lebih luas,” ujar Wahyu Dhyatmika, produser Pal8 Pictures dan Direktur Tempo Media Group.
Selain kolaborasi dengan Tempo Media Group, Matta Cinema juga mengumumkan tiga proyek lainnya. Rencana Besar Untuk Mati Dengan Tenang, adaptasi novel pemenang sayembara, akan disutradarai oleh Ismail BASBETH dengan anggaran Rp 8 miliar dan mulai produksi pada November 2025. Ismail BASBETH juga akan menggarap Peristirahatan Terakhir, naskah karya almarhum Gertjan Zuilhof, mantan programmer International Film Festival Rotterdam, dengan anggaran Rp 20 miliar. Terakhir, Perjalanan Rasa (The Unforgettable Flavors), film yang terinspirasi oleh buku resep Mustika Rasa era Presiden Soekarno (1965), akan disutradarai oleh Lasja F. Susatyo, pendiri Indonesian Director Forum, dengan anggaran Rp 12 miliar dan dikembangkan bersama Ruang Basbeth Bercerita (RBB) pimpinan Lyza Anggraheni, pemenang TAICCA Award pada Busan Asian Film School pitching project 2024.
Ringkasan
Matta Cinema Production dan Tempo Media Group berkolaborasi memproduksi tiga film investigasi berdasarkan kisah nyata dari investigasi jurnalistik Majalah Tempo. Ketiga film, dengan anggaran US$600.000 (sekitar Rp 10 miliar) masing-masing, adalah Pintu Kanjuruhan (tragedi Kanjuruhan), Malam Alia (kasus perundungan), dan Kampung Harapan (isu perjudian online). Film-film ini dijadwalkan produksi pada 2026-2028 dan akan disutradarai oleh sutradara ternama.
Selain kolaborasi tersebut, Matta Cinema juga mengumumkan tiga proyek film lain dengan anggaran bervariasi, mulai dari Rp 8 miliar hingga Rp 20 miliar. Proyek-proyek ini meliputi adaptasi novel, naskah karya almarhum Gertjan Zuilhof, dan film yang terinspirasi oleh buku resep Mustika Rasa era Presiden Soekarno. Partisipasi Matta Cinema di Busan International Film Festival bertujuan untuk membuka peluang kolaborasi internasional, meskipun 80% filmnya ditargetkan untuk pasar Indonesia.