ORI029 sepi peminat, ini strategi Kemenkeu untuk SBN ritel berikutnya

Babaumma – , JAKARTA – Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan menegaskan kembali komitmennya untuk senantiasa adaptif, membuka peluang penyesuaian jadwal penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) Ritel untuk tahun 2026. Meskipun kalender penerbitan telah disusun pada awal tahun, fleksibilitas dalam merevisi jadwal menjadi krusial guna memastikan daya serap SBN Ritel oleh pasar tetap optimal.

Advertisements

Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan, Suminto, menjelaskan bahwa DJPPR memiliki ruang untuk melakukan revisi jadwal tersebut dengan memperhatikan dinamika pasar keuangan nasional serta tingkat likuiditas di dalam negeri. Pemerintah, kata Suminto, juga memiliki kebijakan untuk menyesuaikan struktur kupon, tenor, maupun kalender penerbitan dengan cermat, sejalan dengan kondisi pasar keuangan, likuiditas domestik, dan perkembangan suku bunga. Hal ini disampaikannya kepada Bisnis pada Jumat (20/1/2026) malam.

Pentingnya menyelaraskan jadwal penerbitan SBN Ritel dengan periode jatuh tempo instrumen serupa sebelumnya telah menjadi sorotan kalangan analis. Sejumlah pakar ekonomi menilai bahwa aksi reinvestasi dari investor lama memiliki potensi penyerapan yang signifikan terhadap penerbitan SBN Ritel seri terbaru.

Data historis penerbitan Obligasi Ritel Indonesia (ORI) turut memperkuat pandangan ini. Sebagai contoh, ORI027 yang diluncurkan pada periode 27 Januari—20 Februari 2025, berhasil diserap pasar secara efektif. Kesuksesan ini tidak terlepas dari bertepatannya periode penerbitan dengan jatuh tempo dua produk SBN Ritel lainnya, yaitu Saving Bond Ritel (SBR) 012 seri T2 dan ORI021. Data dari Bareksa menunjukkan bahwa kedua produk yang jatuh tempo tersebut memiliki nilai penjualan total fantastis, mencapai Rp41,79 triliun.

Advertisements

Trump Tetapkan Tarif Global Baru 10% Usai Putusan Mahkamah Agung AS

Fenomena serupa teramati pada penerbitan ORI025 di awal tahun 2024 lalu, yang sukses membukukan penjualan sebesar Rp23,92 triliun. Momentum penerbitan ORI025 pada 29 Januari—22 Februari 2024, beriringan dengan jatuh temponya ORI019 yang memiliki nilai penjualan sebesar Rp26 triliun pada 15 Februari 2024.

Di sisi lain, Suminto juga mengakui signifikansi jatuh tempo SBN Ritel dalam mendorong penyerapan penerbitan surat utang negara ritel yang baru. Ia mencontohkan salah satu faktor yang menyebabkan kurang optimalnya penjualan ORI029 di pasaran adalah ketiadaan SBN Ritel yang jatuh tempo secara bersamaan.

“Hasil penjualan ORI029 dipengaruhi oleh beberapa faktor. Pertama, tidak adanya SBN Ritel yang jatuh tempo selama masa penawaran menyebabkan tidak terjadinya reinvestment oleh existing investor,” ujarnya.

Selain itu, Suminto menambahkan bahwa jadwal penerbitan yang berdekatan dengan hari raya besar keagamaan seperti Imlek dan Ramadhan juga turut memengaruhi keputusan masyarakat untuk menahan dananya, alih-alih berinvestasi. “Kedua, faktor musiman turut berpengaruh karena periode penawaran bertepatan dengan long weekend serta mendekati Ramadhan dan Imlek, yang secara alami meningkatkan kebutuhan likuiditas rumah tangga,” jelasnya.

Penjualan ORI029 Sepi Peminat, Kemenkeu Beberkan Penyebabnya

Akibatnya, penjualan ORI029 hingga Kamis (19/2/2026) pukul 09.50 WIB masih menyisakan sekitar Rp10,51 triliun. Angka ini mengindikasikan bahwa hanya 10 menit menjelang penutupan masa penawaran, produk ini baru berhasil terjual sebesar Rp14,49 triliun.

Secara lebih rinci, ORI029-T3 menyisakan penjualan sebesar Rp4,05 triliun, atau baru mencapai 27,00% dari target. Sementara itu, ORI029-T6 tersisa Rp6,51 triliun, atau 65,1% dari target penjualan yang ditetapkan. Secara akumulatif, penjualan ORI029 secara keseluruhan baru memenuhi 57,96% dari target dana yang ingin dihimpun.

Sebelumnya, Head of Economic Research Division Pefindo, Suhindarto, menegaskan pentingnya bagi DJPPR untuk merancang ulang strategi penentuan kupon dan jadwal penerbitan SBN Ritel sepanjang tahun 2026. Menurutnya, jika melihat data historis, keberhasilan penyerapan SBN Ritel oleh pasar tidak dapat dilepaskan dari peran aksi reinvestasi dari SBN Ritel yang telah jatuh tempo.

“Penyesuaian jadwal penerbitan dengan periode jatuh tempo SBN dalam jumlah besar merupakan langkah strategis yang sangat krusial. Saya berpandangan bahwa strategi reinvestasi otomatis atau kemudahan bagi investor lama untuk beralih ke seri baru dapat menjaga likuiditas tetap berada di dalam ekosistem instrumen pemerintah, terutama saat dana pokok investor kembali tersedia,” kata Suhindarto kepada Bisnis belum lama ini.

Berikut Jadwal Tentatif Masa Penawaran Obligasi Ritel 2026:

  • ORI029 pada 26 Januari—19 Februari 2026
  • SR024 pada 6 Maret—15 April 2026
  • ST016 pada 8 Mei—3 Juni 2026
  • ORI030 pada 6 Juli—30 Juli 2026
  • SR025 pada 21 Agustus—16 September 2026
  • SWR007 pada 4 September—21 Oktober 2026
  • SBR015 pada 29 September—22 Oktober 2026
  • ST017 pada 6 November—2 Desember 2026

Advertisements