JAKARTA — Kebijakan moneter Bank Indonesia (BI), yang ditandai dengan tren penurunan suku bunga acuan (BI Rate) sepanjang tahun 2025, dinilai belum berhasil mendorong pertumbuhan kredit perbankan dan menggerakkan sektor riil. Kondisi stagnasi ini diperkirakan akan terus berlanjut pada tahun 2026, mengingat tingginya volatilitas global serta tekanan berkelanjutan terhadap nilai tukar rupiah.
Pandangan tersebut disampaikan oleh Yossi Martino, Peneliti Global Research on Economics, Advance Technology, and Politics (Great) Institute. Dalam konferensi pers mengenai publikasi hasil riset Great Institute bertajuk Outlook Ekonomi Indonesia 2026, yang digelar di Kantor Great Institute, Jakarta Selatan, Sabtu (10/1/2026), Yossi menyatakan, “Pada 2026, kami berpendapat bahwa tekanan nilai tukar dan volatilitas global masih akan membatasi ruang lanjutan dari kebijakan easing Bank Indonesia.”
Yossi menjelaskan bahwa sepanjang tahun 2025, BI sebagai otoritas intermediasi telah melakukan serangkaian pemangkasan BI Rate. Tercatat, lima kali pemangkasan masing-masing sebesar 25 basis poin (bps), yang secara kumulatif menurunkan suku bunga dari 6 persen pada awal 2025 menjadi 4,75 persen pada akhir 2025. Sejalan dengan langkah ini, BI juga menurunkan posisi instrumen moneter Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Data per 16 Desember 2025 menunjukkan bahwa posisi SRBI turun dari Rp 916,97 triliun pada awal 2025 menjadi Rp 735,67 triliun.
Langkah-langkah kebijakan moneter tersebut merupakan upaya BI untuk menstimulasi pertumbuhan sektor riil melalui penyaluran kredit. Namun, Yossi menyoroti bahwa meskipun berbagai kebijakan telah dikeluarkan, suku bunga simpanan maupun suku bunga kredit di pasar cenderung stabil atau konstan. Hal ini mengindikasikan adanya isu struktural dan fundamental yang perlu ditangani secara komprehensif melalui koordinasi lintas lembaga, agar upaya BI dapat memberikan dampak yang lebih signifikan.
Di sisi lain, tekanan eksternal turut memperkeruh situasi. Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mengalami pelemahan signifikan sepanjang 2025, dengan depresiasi sekitar 3 hingga 3,4 persen. Pada akhir 2025, posisi nilai tukar rupiah tercatat berada di level Rp 16.670 per dolar AS. Pelemahan ini menjadi salah satu faktor kunci yang membatasi ruang gerak kebijakan moneter BI.
Berdasarkan data dan kondisi tersebut, Yossi Martino memprediksi bahwa ruang untuk kelanjutan kebijakan moneter BI akan semakin terbatas pada tahun 2026, terutama dipengaruhi oleh tekanan nilai tukar rupiah dan terus tingginya volatilitas global.
Dalam kesempatan yang sama, Peneliti Great Institute lainnya, Adrian Nalendra Perwira, turut mengemukakan bahwa ketidakpastian ekonomi global akan tetap tinggi pada tahun 2026. Menurut Adrian, asumsi global seperti perlambatan ekonomi dunia dan tren proteksionisme berpotensi menyebabkan fragmentasi supply chain yang lebih parah.
Adrian menjelaskan bahwa data Global Economic Policy Uncertainty Index menunjukkan adanya peningkatan ketidakpastian global selama dua dekade terakhir, terutama dalam hal regulasi dan kebijakan. Kondisi ini semakin memburuk pada periode 2024—2025, dipicu oleh perang dagang yang diinisiasi oleh mantan Presiden AS Donald Trump serta meningkatnya tensi geopolitik di berbagai belahan dunia.
Lebih lanjut, data World Uncertainty Index untuk Indonesia mengonfirmasi bahwa negara ini sangat terdampak oleh ketidakpastian global pada tahun 2025, bahkan mencapai level tertinggi dalam satu dasawarsa terakhir. Adrian menegaskan, “Karena Indonesia merupakan bagian dari kehidupan internasional, maka dampak uncertainty-nya juga besar. Jadi, tantangannya bukan hanya domestik, tetapi juga global.” Hal ini menggarisbawahi kompleksitas tantangan yang dihadapi ekonomi Indonesia di tengah dinamika global.