PLTSa Terancam Bila Kekurangan Sampah, Bagaimana Perhitungan Danantara?

Danantara tengah giat menggagas inisiatif program pengolahan sampah menjadi energi listrik, atau yang dikenal dengan Waste to Energy (WtE) atau PSEL, berskala nasional. Namun, bayangan tantangan dari luar negeri mulai mengemuka: di Cina, proyek serupa menghadapi problem pasokan sampah yang minim. Apakah ancaman kekurangan stok sampah ini juga akan mengintai program PSEL di dalam negeri?

Advertisements

Menurut Lead of Waste to Energy Danantara, Fadli Rahman, setiap pemerintah daerah (Pemda) yang berencana merealisasikan proyek PSEL diwajibkan menyetorkan sampah setidaknya 1.000 ton setiap hari. Ketentuan ini sejalan dengan Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025 yang menjadi landasan hukum program vital ini.

Danantara sendiri merencanakan pembangunan proyek PSEL di 33 kabupaten/kota. Jika setiap daerah mampu memasok 1.000 hingga 1.500 ton sampah per hari, total sampah yang terolah melalui PSEL baru akan mencapai sekitar 40 ribu ton. “Angka ini masih jauh di bawah 170.000 ton sehari, yaitu total timbulan sampah Indonesia saat ini,” ungkapnya dalam diskusi yang diselenggarakan Tenggara Strategics dan CSIS di Jakarta pada Rabu (21/1).

Untuk memastikan keberlanjutan pasokan, tahapan pre-feasibility study (pra-studi kelayakan) dan feasibility study (studi kelayakan) menjadi krusial. Proses ini secara cermat menghitung kemampuan definitif daerah dalam menyuplai sampah untuk PSEL. Hal ini sangat penting, mengingat komitmen yang harus ditanggung oleh pemerintah daerah adalah selama 30 tahun setelah kesepakatan proyek PSEL tercapai. Apabila dalam masa operasional terjadi defisit pasokan sampah, Pemda dapat berinovasi mencari solusi, seperti memanfaatkan sampah dari daerah lain, mengoptimalkan sampah yang sudah ada di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA), atau melalui upaya-upaya kreatif lainnya.

Advertisements

Di Cina, fenomena kekurangan sampah telah menyebabkan sejumlah pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) terpaksa menangguhkan operasionalnya, khususnya di wilayah-wilayah kecil. Data Pemantauan PLTSa Cina menunjukkan dari total 2.138 insinerator (mesin pembakaran sampah) yang ada, hanya 1.267 unit yang mencapai waktu operasional di atas 90 persen. Ironisnya, sekitar 107 insinerator sampah bahkan tidak beroperasi lebih dari enam bulan.

Cina sebelumnya menargetkan kapasitas pembakaran sampah padat perkotaan mencapai sekitar 800.000 ton per hari pada 2025. Namun, target ambisius ini telah tercapai lebih cepat, yaitu pada 2022. Catatan terbaru di 2024 menunjukkan total kapasitas pembakaran sampah di Cina kini telah meroket hingga 1,17 juta ton per hari, sebuah peningkatan drastis dari hanya 238 ribu ton pada 2016. Angka-angka ini mengindikasikan bahwa meskipun kapasitas terpasang sangat besar, tantangan dalam menjamin pasokan sampah yang konsisten tetap menjadi persoalan.

Advertisements