JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan pelemahan signifikan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Pada perdagangan Jumat (26/9/2025) pagi, mata uang Garuda terpangkas 43 poin atau setara 0,26 persen, mencapai level Rp16.792 per dolar AS di pasar spot Bloomberg pada pukul 09.07 WIB. Kondisi ini mencerminkan tekanan berkelanjutan yang dihadapi rupiah di tengah dinamika ekonomi global dan domestik.
Pelemahan ini merupakan kelanjutan tren dari sehari sebelumnya, Kamis (25/9/2025), di mana rupiah telah ditutup merosot 64 poin atau 0,38 persen ke posisi Rp16.749 per dolar AS. Tekanan terhadap nilai tukar rupiah ini dipicu oleh penantian pasar global terhadap rilis data inflasi AS yang dinanti, ditambah dengan keputusan krusial dari Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang secara tegas menolak rencana program pengampunan pajak atau tax amnesty jilid II.
Menyikapi kondisi tersebut, Bank Indonesia (BI) menegaskan komitmennya untuk terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, dalam keterangannya pada Jumat (26/9/2025), menyatakan bahwa BI akan menggunakan seluruh instrumen yang tersedia secara “bold” atau tegas. Intervensi dilakukan baik di pasar domestik melalui instrumen spot, DNDF (Domestic Non-Deliverable Forward), serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder, maupun di pasar luar negeri di Asia, Eropa, dan Amerika secara terus-menerus melalui intervensi NDF (Non-Deliverable Forward).
BI menyatakan keyakinan penuh bahwa serangkaian langkah intervensi ini mampu menahan laju pelemahan rupiah agar tetap bergerak sesuai dengan nilai fundamentalnya. “Bank Indonesia yakin seluruh upaya yang dilakukan dapat menstabilkan nilai tukar rupiah, sesuai nilai fundamentalnya,” kata Perry, menggarisbawahi optimisme lembaga moneter tersebut dalam menghadapi tekanan pasar.
Lebih lanjut, Perry Warjiyo juga menyerukan kepada seluruh pelaku pasar untuk berpartisipasi aktif dalam menjaga stabilitas. Ia mengajak para pelaku pasar untuk bersama-sama menciptakan iklim pasar keuangan yang kondusif, sebuah prasyarat esensial agar stabilitas nilai tukar rupiah dapat tercapai dengan baik dan berkelanjutan.
Ringkasan
Pada hari Jumat (26/9/2025), nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar AS, mencapai Rp16.792 di pasar spot. Pelemahan ini dipicu oleh penantian data inflasi AS dan penolakan tax amnesty jilid II oleh Menteri Keuangan.
Bank Indonesia (BI) menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas rupiah dengan melakukan intervensi di pasar domestik dan luar negeri menggunakan berbagai instrumen seperti spot, DNDF, dan pembelian SBN. Gubernur BI, Perry Warjiyo, mengajak pelaku pasar untuk bersama menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.