Penyebab IHSG bergerak volatil meski berulang kali cetak rekor ATH
IHSG mengalami volatilitas meskipun mencetak rekor all time high karena rotasi sektoral dan posisi dekat resistance psikologis di level 9.000.
IHSG mengalami volatilitas meskipun mencetak rekor all time high karena rotasi sektoral dan posisi dekat resistance psikologis di level 9.000.
IHSG sesi I melemah 0,001% ke 8.884,62. Saham Prajogo Pangestu dan Grup MNC loyo, sementara saham Anthoni Salim dan Boy Thohir menguat.
IHSG turun 2% pada perdagangan intraday 12 Januari 2026 akibat ketegangan AS-Iran, aksi profit taking, dan stagnasi data CPI. Saham energi terkoreksi signifikan.
IHSG sesi I 12/1/2026 naik 0,13% ke 8.947,96. Saham konglomerat seperti MNC dan Bakrie menguat, sementara saham Prajogo Pangestu melemah. Analis prediksi IHSG sesi II di rentang 8.900-9.000.
IHSG mencapai rekor tertinggi baru di 8.946,70 dengan saham ADRO, TINS, dan BBRI naik. Waspadai aksi profit taking dan geopolitik.
IHSG cetak rekor baru di 8.944,81, didorong beli bersih asing dan potensi pemangkasan suku bunga The Fed. Stabilitas rupiah dan politik penting untuk arus dana.
IHSG mencetak rekor ATH dua hari berturut-turut di awal Januari 2026, didorong oleh January Effect dan kondisi makro ekonomi yang solid.
IHSG diprediksi melemah akibat ketegangan AS-Venezuela. Investor disarankan memantau saham PYFA, ASSA, HMSP, PNBN, DATA, dan SCMA.
IHSG melemah 0,55% di tengah volume perdagangan akhir tahun yang lesu. Saham ARTO, TLKM, ANTM, dan ASII direkomendasikan analis untuk strategi trading.
IHSG melemah 0,83% ke 8.537,91 pada pekan Natal 2025, dengan kapitalisasi pasar turun 1,17% menjadi Rp15.603 triliun. Transaksi harian juga menurun.