Tahun kuda api, ini ramalan peruntungan investasi di pasar Asia

Tahun Kuda Api, sebuah siklus dalam kalender Cina yang hanya muncul setiap 60 tahun sekali, secara tradisional dianggap membawa gelombang energi baru dan peluang transformatif. Momentum keberuntungan ini tampak jelas tercermin dalam gemerlap kinerja pasar Asia sepanjang tahun 2025. Pada periode ini, para investor global mulai mengalihkan fokus dan dana investasi mereka secara signifikan dari saham-saham raksasa Amerika Serikat ke kawasan Asia yang menawarkan valuasi jauh lebih menarik dan prospek pertumbuhan yang menjanjikan.

Advertisements

Pergeseran sentimen investor ini bukan tanpa dasar yang kuat. Riset mendalam dari perusahaan investasi terkemuka, Aberdeen, mengonfirmasi lonjakan luar biasa pada indeks MSCI AC Asia Pacific sebesar 21,2% (dalam poundsterling) sepanjang tahun 2025. Angka ini secara telak melampaui kinerja indeks MSCI World yang hanya naik 16,7%. Akibatnya, sentimen positif yang kuat ini secara signifikan mendorong kenaikan valuasi di berbagai bursa saham di seluruh Asia.

Mengulas lebih dalam, Manajer Aberdeen Asian Income Fund (AAIF), Isaac Thong, menyoroti daya tarik kembali pasar Tiongkok. Hal ini terjadi setelah pemerintah Tiongkok mengambil langkah berani dengan melonggarkan berbagai kebijakan ekonominya pascapandemi, membuka kembali keran investasi dan aktivitas bisnis. Meski demikian, pemulihan ekonomi di Tiongkok masih bersifat tidak merata; sektor-sektor seperti AI, robotika, dan bioteknologi menunjukkan pertumbuhan yang pesat, sementara sektor konsumsi dan properti masih harus berjuang untuk bangkit.

Kinerja positif ini juga terlihat dari portofolio Aberdeen. AAIF, yang secara khusus berfokus pada saham berkapitalisasi besar dengan imbal hasil dividen, mencatatkan kenaikan impresif sebesar 30% sepanjang 2025, dengan imbal hasil mencapai 7%. Di sisi lain, Aberdeen Asia Focus (AAS) yang dikelola oleh Gabriel Sacks, memilih strategi berbeda dengan membidik saham berkapitalisasi kecil di pasar-pasar dinamis seperti India, Taiwan, dan Asia Tenggara. AAS berhasil tumbuh 27%, melampaui tolok ukur yang ditetapkan, menunjukkan fleksibilitas dan ketajaman investasi di kawasan tersebut.

Advertisements

Namun, di tengah euforia ini, kedua manajer investasi tersebut tetap menyuarakan kehati-hatian. Mereka menilai bahwa optimisme yang terlalu tinggi, terutama terhadap sektor teknologi seperti AI, berpotensi menciptakan gelembung. Oleh karena itu, para manajer investasi mulai aktif mencari peluang diversifikasi lain, baik dalam rantai pasok teknologi yang lebih luas maupun di pasar domestik Asia yang masih kurang terwakili dalam portofolio global. Negara-negara seperti Vietnam, Indonesia, dan Filipina kini menjadi sasaran utama berkat potensi pertumbuhan yang belum sepenuhnya tergali.

Ke depan, Aberdeen optimistis memperkirakan bahwa laba perusahaan di seluruh Asia masih berpotensi tumbuh antara 10-15% pada tahun 2026. Proyeksi positif ini muncul meskipun bayang-bayang risiko geopolitik dan ketidakpastian perdagangan global masih menjadi perhatian. Secara keseluruhan, momentum positif di kawasan ini diperkirakan akan terus berlanjut, didorong oleh peningkatan daya saing global produk-produk Asia, mulai dari kendaraan listrik hingga sektor e-commerce yang berkembang pesat.

Penting untuk diingat bahwa kinerja masa lalu sebuah investasi bukanlah jaminan pasti untuk hasil di masa depan, dan nilai investasi dapat berfluktuasi, baik naik maupun turun.

Advertisements