Vale (INCO) kantongi pinjaman hijau hingga Rp13 triliun untuk proyek nikel

PT Vale Indonesia Tbk (INCO) sukses mengamankan fasilitas pembiayaan inovatif berupa Sustainability-Linked Loan (SLL) senilai US$ 750 juta, setara dengan hampir Rp 13 triliun (mengacu kurs Rp17.726/US$), yang dilengkapi dengan opsi tambahan (greenshoe) sebesar US$ 250 juta. Perolehan fasilitas pinjaman ini menandai langkah strategis penting bagi perusahaan.

Advertisements

Fasilitas pinjaman sindikasi ini merupakan yang pertama kalinya diterima oleh INCO, dirancang khusus untuk mendukung akselerasi pengembangan proyek-proyek strategis perseroan. Kepercayaan investor terhadap Vale Indonesia terlihat jelas dari dukungan sindikasi 14 bank internasional, yang bahkan menyebabkan pendanaan ini mengalami kelebihan permintaan (oversubscribed) hingga 1,7 kali, sebuah indikasi kuat atas potensi dan prospek bisnis perusahaan.

Pendanaan yang diperoleh akan dialokasikan secara cermat untuk memperkuat proyek-proyek kunci perusahaan. Pada tahun 2026, sekitar 50% dana direncanakan untuk pengembangan proyek IGP Pomalaa, 30% untuk proyek Indonesia Growth Project (IGP) Morowali, dan 20% sisanya akan diarahkan untuk pengembangan IGP Sorowako Limonite. Komitmen ini menunjukkan fokus Vale dalam meningkatkan kapasitas produksi dan inovasi di berbagai lini.

Melanjutkan strategi investasi, pada tahun 2027 mendatang, fokus pendanaan akan bergeser pada kelanjutan progres proyek-proyek yang telah berjalan sebelumnya, serta pemenuhan hak partisipasi dalam proyek joint venture yang akan semakin memperluas jejak bisnis Vale Indonesia di sektor pertambangan nikel.

Advertisements

Baca juga:

  • Laba Melonjak 31,6% di 2025, Intip Sumber Kinerja Vale Indonesia (INCO)
  • Mengintip Kans Dividen Vale Indonesia (INCO) di Tengah Penurunan Kinerja Usaha
  • Menilik Dampak Aturan Baru Harga Nikel, Bagaimana Prospek ANTM, INCO serta MBMA?

Presiden Direktur dan CEO Vale, Bernardus Irmanto, menegaskan bahwa perolehan fasilitas SLL ini bukan sekadar transaksi finansial, melainkan sebuah manifestasi konkret dari komitmen perusahaan dalam mengintegrasikan aspek keberlanjutan ke dalam setiap keputusan strategis. Ini adalah wujud nyata visi Vale untuk masa depan yang lebih bertanggung jawab.

“Kami berkomitmen untuk terus menghadirkan nikel berkualitas tinggi dengan jejak karbon yang lebih rendah, sekaligus mendukung pengembangan industri hilirisasi nasional dan transisi energi global,” ujar Bernardus dalam keterangan resminya pada Kamis (23/4). Pernyataan ini menggarisbawahi peran krusial Vale dalam ekosistem industri dan energi global.

Seiring dengan percepatan elektrifikasi dan pesatnya pengembangan energi terbarukan di seluruh dunia, Bernardus menyoroti bahwa permintaan terhadap nikel, sebagai komponen utama baterai kendaraan listrik (EV) dan penyimpanan energi, terus menunjukkan tren peningkatan yang signifikan. Kebutuhan akan material ini menjadi semakin vital dalam era transisi energi.

Proyeksi dari International Energy Agency (IEA) turut memperkuat pandangan ini, yang memperkirakan bahwa kapasitas penyimpanan baterai global perlu meningkat hingga 14 kali lipat. Sementara itu, permintaan baterai EV diproyeksikan akan melonjak 7 kali lipat hingga tahun 2030, menandakan pasar yang sangat menjanjikan bagi produsen nikel.

Saat ini, Vale Indonesia menempati posisi strategis sebagai salah satu produsen nikel dengan intensitas karbon yang relatif rendah. Keunggulan ini didukung oleh pemanfaatan energi terbarukan melalui tiga pembangkit listrik tenaga air (PLTA) yang terintegrasi secara penuh dalam operasionalnya. Vale secara berkelanjutan juga berupaya meningkatkan kapasitas dan keandalan infrastruktur PLTA untuk mendukung proses elektrifikasi operasional secara bertahap, menjamin produksi nikel yang lebih hijau dan berkelanjutan.

Advertisements