Waduk di Jakarta kini dirancang untuk curah hujan ekstrem

Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta terus menunjukkan komitmennya dalam upaya penanganan banjir, terutama menghadapi potensi curah hujan ekstrem. Melangkah maju, mereka kini merancang desain waduk dan embung yang memiliki kapasitas penampungan air jauh di atas rata-rata, bahkan saat intensitas hujan mencapai lebih dari 150 mm per hari. Salah satu proyek andalan dalam inisiatif strategis ini adalah Embung Kebagusan, yang berlokasi di Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Advertisements

Kepala Dinas SDA DKI Jakarta, Ika Agustin Ningrum, pada Jumat (30/1), menjelaskan bahwa infrastruktur terbaru yang mereka kembangkan didesain untuk menahan curah hujan di atas 200 mm per hari. “Embung (Kebagusan) ini didesain dengan intensitas curah hujan 221 mm per hari,” ungkap Ika, menegaskan kapasitas adaptasi yang signifikan terhadap tantangan cuaca ekstrem ibu kota.

Embung Kebagusan, yang terletak di Jalan Baung, Kelurahan Kebagusan, Kecamatan Pasar Minggu, memiliki total luas sekitar dua hektare. Pembangunan embung ini bertujuan krusial untuk mereduksi debit banjir pada sistem aliran saluran penghubung Joe, yang merupakan bagian integral dari sistem Kali Mampang-Krukut. Dengan adanya embung ini, diharapkan terjadi penurunan debit aliran air sekitar 2,3 persen.

Sebelum keberadaan Embung Kebagusan, debit air pada sistem aliran saluran penghubung Kali Mampang dan Krukut tercatat sekitar 30,07 meter kubik per detik. Namun, setelah embung ini berfungsi penuh, debitnya berhasil dikurangi hingga menjadi 29,38 meter kubik per detik. Data ini menunjukkan dampak nyata dan terukur dalam mitigasi risiko banjir di area tersebut.

Advertisements

Baca juga:

  • Banjir Rendam 39 RT dan 3 Ruas Jalan di Jakarta, Tinggi Air hingga 3,5 Meter
  • 17 RT di Jakarta Timur dan Jakarta Barat Terendam Banjir hingga 1,5 Meter
  • Sirine Peringatan Banjir Bekasi Berbunyi, BPBD Sebut Tinggi Muka Air Kini Turun

Ika Agustin Ningrum lebih lanjut menjelaskan konsep operasional di balik efektivitas Embung Kebagusan. “Konsepnya, sebelum aliran itu mengalir di pertemuan Kali Krukut dan Kali Mampang, di atas atau di hulunya kami tangkap terlebih dulu (di Embung Kebagusan),” terangnya. Strategi ini memastikan bahwa volume air yang mencapai titik pertemuan dua kali tersebut telah berkurang, meminimalkan potensi luapan.

Melalui implementasi strategi penangkapan air di hulu ini, diharapkan genangan atau banjir yang selama ini kerap menjadi momok di wilayah Pegangsaan Dua – sebuah lokasi langganan banjir akibat luapan Saluran Penghubung Joe – dapat tertangani secara lebih optimal. Ini merupakan solusi vital untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat di daerah rawan tersebut.

Embung Kebagusan adalah salah satu dari tujuh embung dan waduk yang saat ini sedang dibangun oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Ika mengungkapkan, total embung yang sudah ada di Jakarta saat ini berjumlah 50, dan proyek-proyek baru ini akan semakin memperkuat infrastruktur pengendalian banjir.

Potensi untuk pengembangan infrastruktur penampungan air di Jakarta masih sangat besar. Ika menambahkan, “Potensi selain 50 plus tujuh tadi, ada kurang lebih 93” lokasi yang telah diidentifikasi sebagai tempat potensial untuk pembangunan embung atau waduk di masa depan, menunjukkan visi jangka panjang Pemprov DKI Jakarta.

Secara fundamental, pembangunan embung dan waduk ini berfungsi untuk menampung air sementara saat terjadi banjir. Langkah ini merupakan bagian esensial dari upaya komprehensif untuk menanggulangi banjir dengan cara menambah daerah resapan air, sekaligus mengurangi tekanan pada sistem drainase perkotaan.

Ika juga memaparkan pendekatan holistik Dinas SDA DKI Jakarta dalam penanganan banjir. “Jadi, selain membangun polder, meningkatkan kapasitas sungai, kami juga membuat tampungan-tampungan air dalam bentuk ruang terbuka biru,” ungkapnya, menegaskan strategi terpadu yang melibatkan berbagai jenis infrastruktur untuk memastikan ketahanan kota.

Ke depan, Ika Agustin Ningrum memastikan bahwa pembangunan waduk dan embung lainnya akan terus dilakukan secara berkelanjutan. Ini adalah pilar penting dari strategi pengendalian banjir terpadu di seluruh wilayah DKI Jakarta, demi mewujudkan kota yang lebih aman, nyaman, dan tangguh menghadapi tantangan iklim global.

Advertisements