Wall Street ditutup variatif di tengah pelemahan saham teknologi

Babaumma – JAKARTA — Wall Street menunjukkan kinerja yang beragam pada perdagangan Kamis (8/1/2026) waktu AS, dengan indeks Nasdaq tertekan akibat pelemahan signifikan di sektor saham teknologi.

Advertisements

Melansir laporan Reuters pada Jumat (9/1/2026), Indeks S&P 500 ditutup melemah tipis 0,09% ke level 6.914,57, dan Nasdaq Composite turut merosot 0,65% menjadi 23.430,74. Kontras dengan keduanya, Dow Jones Industrial Average justru menguat 0,54% dan mencapai 49.260,20.

Sebelumnya, pada Rabu (7/1/2026), S&P 500 dan Dow Jones sempat mencetak rekor tertinggi dalam sesi perdagangan harian. Namun, valuasi pasar secara keseluruhan masih tergolong tinggi menjelang dimulainya musim pelaporan keuangan kuartal IV/2025.

: Bank-Bank Wall Street Meraup Keuntungan Lebih Besar dari Proyek Hijau

Advertisements

Berdasarkan data dari LSEG, rasio harga terhadap laba (P/E) proyeksi untuk S&P 500 saat ini berada di kisaran 22 kali. Angka ini memang telah menurun dari 23 kali pada November 2025, namun masih jauh di atas rata-rata lima tahunnya yang berada di level 19 kali, menunjukkan bahwa pasar masih dinilai mahal oleh sebagian investor.

Sektor teknologi menjadi perhatian utama, dengan saham Nvidia turun 2,3%, Broadcom melemah 3%, dan Microsoft terkoreksi 1,2%. Indeks sektor teknologi S&P 500 sendiri merosot 1,7%, menyebabkan koreksi sekitar 1% secara year to date 2026. Kondisi ini mencerminkan sikap investor yang semakin selektif terhadap saham-saham berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang valuasinya telah melonjak tajam dalam beberapa tahun terakhir.

: Antisipasi Efek Konflik AS-Venezuela ke Lantai Bursa RI

Di tengah pelemahan saham teknologi tersebut, saham Alphabet justru menunjukkan penguatan sebesar 1,2%. Kenaikan ini terjadi sehari setelah induk perusahaan Google tersebut berhasil melampaui kapitalisasi pasar Apple untuk pertama kalinya sejak 2019, menjadikannya perusahaan paling bernilai kedua di Amerika Serikat. Sebaliknya, saham Apple tercatat terakhir turun 1,2%.

Art Hogan, Chief Market Strategist di B. Riley Wealth, mengungkapkan, “Meskipun AI masih menjadi tema yang sangat diminati, akan ada perusahaan yang menjadi pemenang dan pecundang.”

Menurut Hogan, sektor AI saat ini memasuki fase krusial pembuktian, di mana fokus beralih ke monetisasi dan imbal hasil nyata dari investasi modal besar yang telah dikucurkan.

Pergerakan menarik juga terlihat di sektor pertahanan, di mana saham-sahamnya menguat signifikan setelah Donald Trump menyuarakan pandangan bahwa anggaran militer AS untuk 2027 seharusnya mencapai US$1,5 triliun. Angka ini jauh melampaui anggaran US$901 miliar yang telah disetujui Kongres untuk tahun 2026.

Saham Lockheed Martin melonjak 4,3%, Northrop Grumman naik 2,6%, dan Kratos Defense bahkan melesat 14%, menunjukkan respons positif investor terhadap potensi peningkatan belanja pertahanan.

Perlu dicatat, sebelumnya sejumlah saham pertahanan sempat tertekan menyusul ancaman Trump yang akan melarang kontraktor pertahanan membagikan dividen atau melakukan pembelian kembali saham hingga mereka mempercepat produksi senjata.

Dari sisi data ekonomi, jumlah warga AS yang mengajukan klaim awal tunjangan pengangguran tercatat meningkat moderat pada pekan lalu. Peningkatan ini, meskipun tidak drastis, mengindikasikan bahwa permintaan tenaga kerja masih tergolong lemah, sejalan dengan data ketenagakerjaan ADP dan JOLTS yang telah dirilis pada Rabu (7/1/2026).

Pelaku pasar kini memusatkan perhatian pada rilis data nonfarm payrolls AS untuk Desember 2025 yang dijadwalkan pada Jumat (9/1/2026). Data ini menjadi salah satu indikator ekonomi utama pertama yang dirilis setelah berakhirnya penutupan pemerintahan AS terpanjang dalam sejarah, sehingga sangat dinantikan untuk mengukur kesehatan pasar tenaga kerja.

Sementara itu, ada kabar positif dari lembaga pemeringkat Fitch Ratings yang menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi AS. Fitch memperkirakan produk domestik bruto (PDB) akan tumbuh 2,1% pada 2025 dan 2,0% pada 2026. Revisi proyeksi ini dilakukan setelah memasukkan data ekonomi yang sempat tertunda akibat penutupan pemerintah tahun lalu, memberikan gambaran yang lebih optimis mengenai prospek ekonomi AS.

Advertisements