Apa itu child grooming yang ditulis Aurelie Moeremans dalam Broken Strings

Istilah child grooming mendadak menjadi sorotan di berbagai platform media sosial, memicu diskusi penting di kalangan masyarakat. Hal ini terjadi setelah aktris ternama, Aurelie Moeremans, menerbitkan memoar terbarunya yang berjudul Broken Strings. Dalam karyanya tersebut, aktris kelahiran Belanda ini dengan berani menguak pengalaman traumatis yang ia alami saat masih berusia 15 tahun, sebuah pengakuan yang mengguncang banyak pihak.

Advertisements

“Buku ini adalah kisah nyata tentang aku. Tentang bagaimana aku di-grooming waktu umur 15 tahun oleh seseorang yang usianya hampir dua kali umur aku,” demikian Aurelie menulis di akun Instagram pribadinya, memberikan gambaran langsung tentang penderitaannya. Melalui Broken Strings, Aurelie Moeremans merinci bagaimana dirinya menjadi korban manipulasi dan kontrol emosional yang dilakukan oleh seorang pria dewasa, yang kala itu usianya hampir menginjak 30 tahun. Kisahnya ini tidak hanya menjadi pembuka luka pribadi, melainkan juga sebuah upaya krusial untuk memperluas kesadaran publik mengenai bahaya laten child grooming.

Kisah Aurelie Moeremans secara efektif menyoroti kebutuhan mendesak untuk memahami lebih dalam apa itu child grooming dan bagaimana bahaya latennya dapat menghancurkan kehidupan korban. Mari kita selami ulasan singkat mengenai fenomena child grooming ini, yang kini kembali menjadi perbincangan hangat seiring dengan rilis buku Broken Strings.

Baca juga:

  • Sinopsis Broken Strings Lengkap dengan Link Download untuk Baca Gratis
  • 8 Ciri-Ciri Toxic Relationship Harus Segera Disadari
  • Memahami Ciri-ciri Hubungan Toxic yang Harus Diwaspadai

Advertisements

Apa Itu Child Grooming?

Ilustrasi Child Grooming (Freepik)

Melansir laman Women’s Reproductive Health Center, child grooming didefinisikan sebagai serangkaian upaya sistematis yang dilakukan oleh orang dewasa untuk memanipulasi pikiran anak atau remaja. Tujuannya adalah untuk membangun kepercayaan dan mengikat emosi korban, sehingga mereka dapat dengan mudah dimanipulasi, dilecehkan, atau dieksploitasi, baik secara emosional maupun seksual.

Meski dalam banyak kasus child grooming kerap dikaitkan dengan pedofilia, yaitu ketertarikan seksual terhadap anak di bawah umur, penting untuk dipahami bahwa ini bukanlah tindakan tunggal. Sebaliknya, child grooming merupakan sebuah proses licik yang berlangsung secara bertahap dan terencana. Pelaku umumnya memulai dengan membangun hubungan yang tampak aman, hangat, dan penuh dukungan, sering kali dengan menyamar sebagai teman, figur penolong, atau sosok yang sangat dapat dipercaya. Setelah kedekatan emosional terjalin kuat, pelaku mulai mengajukan permintaan-permintaan tertentu yang secara perlahan-lahan mengarah pada unsur seksual, seperti meminta foto atau mendorong anak untuk melakukan tindakan yang tidak pantas.

Proses Child Grooming Terjadi

Proses child grooming adalah modus operandi yang berjalan secara bertahap, dirancang untuk membangun kepercayaan sembari secara perlahan menurunkan kewaspadaan korban. Proses ini bisa memakan waktu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Dalam beberapa situasi, pelaku bahkan mendekati keluarga korban untuk menepis segala kecurigaan. Berikut adalah tahapan-tahapan grooming yang umumnya dilakukan pelaku:

1. Memilih Target Grooming

Pada tahap awal, pelaku akan secara cermat mencari korban dengan kriteria tertentu. Mereka cenderung menargetkan anak-anak yang patuh dan mudah percaya pada orang dewasa, memiliki rasa percaya diri yang rendah, merasa kesepian, atau minim pengawasan dari orang tua. Menurut hasil penelitian dari organisasi National Society for the Prevention of Cruelty to Children (NSPCC), pelaku child grooming juga kerap memilih korban yang tidak memiliki kedekatan emosional dengan keluarga. Namun, penting untuk digarisbawahi bahwa faktor-faktor tersebut hanyalah sebagian kecil dari kondisi yang dapat meningkatkan risiko. Setiap anak, terlepas dari latar belakang dan kondisi mereka, tetap berpotensi menjadi korban pelecehan.

2. Membangun Kepercayaan

Pelaku child grooming memiliki kemampuan untuk dengan mudah mendapatkan kepercayaan korban karena mereka memproyeksikan citra yang sangat positif. Mereka tampil sebagai sosok yang ramah, baik hati, dan seringkali memiliki reputasi yang sangat baik di lingkungan sekitar. Pelaku juga kerap menunjukkan perhatian yang berlebihan, kasih sayang yang intens, serta memberikan perlakuan khusus kepada korban. Tidak jarang, mereka memberikan pujian, hadiah, atau fasilitas tertentu untuk memperkuat ikatan emosional ini. Studi dari Jurnal Child Abuse Review oleh Ethel Quayle menyebut fenomena ini sebagai “love bombing,” sebuah strategi yang efektif untuk menciptakan ikatan emosional yang kuat, membuat anak merasa sangat spesial dan berharga, terutama bagi anak-anak yang haus kasih sayang atau validasi.

3. Mengisolasi Korban dan Desensitisasi Seksual

Setelah ikatan emosional terbentuk, pelaku child grooming secara bertahap akan menjauhkan anak dari orang-orang terdekatnya, seperti keluarga dan teman. Ketika mulai mengarah pada pelecehan, pelaku akan mengajukan pertanyaan-pertanyaan terkait pengetahuan atau pengalaman seksual korban. Pelaku juga bisa berbagi pengalaman seksualnya sendiri sebagai bentuk normalisasi, mencoba membuat anak merasa bahwa perilaku tersebut adalah hal yang wajar. Selain itu, pelaku dapat menggunakan bahasa bernuansa seksual yang dibungkus dengan candaan, serta secara perlahan mulai melakukan sentuhan pada tubuh korban. Dalam beberapa kasus, pelaku bahkan memperlihatkan tubuh mereka, menunjukkan konten pornografi anak, atau meningkatkan intensitas sentuhan yang bersifat seksual, secara sistematis mengikis batasan moral dan fisik anak.

4. Eksploitasi

Di tahap puncak ini, pelaku berupaya penuh untuk mempertahankan kontrol mutlak atas anak. Pelaku akan menggunakan berbagai taktik manipulatif, seperti memberikan ancaman halus, membuat anak merasa bersalah, atau menawarkan janji-janji tertentu agar hubungan terlarang ini tetap berjalan. Akibatnya, anak merasa terikat dan sangat sulit untuk melepaskan diri dari situasi berbahaya tersebut. Ketika pelaku mulai merasa terancam atau dicurigai, mereka bisa tiba-tiba memutus kontak atau justru menyalahkan anak atas apa yang terjadi, memutarbalikkan fakta demi kepentingan diri sendiri. Pelaku akan melakukan segala bentuk manipulasi agar korban tetap bungkam, seringkali dengan mendorong korban untuk menganggap tindakan tersebut sebagai rahasia eksklusif di antara mereka berdua, yang memperburuk isolasi dan trauma yang dialami korban.

Dampak Child Grooming

Dikutip dari laman Halodoc, child grooming dapat meninggalkan dampak yang sangat merusak, baik pada kesehatan fisik maupun mental anak. Berikut adalah beberapa dampak signifikan dari child grooming yang mungkin terjadi pada korban:

  • Trauma psikologis: Korban sering mengalami stres pascatrauma (PTSD), kecemasan parah, depresi, dan perasaan bersalah yang mendalam.
  • Masalah perilaku: Perubahan perilaku seperti agresi, menarik diri dari sosial, penggunaan zat terlarang, atau perilaku menyakiti diri sendiri dapat muncul.
  • Kesulitan membangun hubungan: Kepercayaan yang hancur dapat menyebabkan korban sulit membangun dan mempertahankan hubungan yang sehat di masa depan, seringkali disertai ketakutan akan pengkhianatan atau manipulasi.
  • Gangguan identitas: Korban mungkin kesulitan memahami diri sendiri, merasa bingung tentang nilai-nilai dan batasan pribadi mereka, serta mengalami rasa tidak berharga yang mendalam.

Demikianlah ulasan mendalam mengenai apa itu child grooming dan proses berbahaya di baliknya, sebuah isu krusial yang kembali mengemuka berkat keberanian Aurelie Moeremans dalam merilis buku Broken Strings. Kisah ini menjadi pengingat penting bagi kita semua akan urgensi untuk memahami, mengenali, dan mencegah praktik mengerikan ini demi melindungi anak-anak kita.

Advertisements