Laba Bersih PLN Anjlok 59 Persen Jadi Rp 7,26 Triliun

PT PLN (Persero) mencatatkan laba bersih sebesar Rp 7,26 triliun pada tahun lalu. Meskipun angka tersebut menunjukkan penurunan sebesar 59,12% dibandingkan tahun sebelumnya (year on year/yoy), performa perusahaan tetap menunjukkan resiliensi di tengah gejolak ekonomi global yang menantang, terutama terkait tekanan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Advertisements

Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, mengungkapkan bahwa faktor utama di balik penyusutan laba bersih ini adalah kerugian selisih kurs yang mencapai Rp 12,46 triliun. Volatilitas mata uang global menjadi tantangan besar bagi perseroan dalam mempertahankan performa finansialnya. Meski demikian, PLN tetap berkomitmen penuh untuk memperkuat transformasi perusahaan, meningkatkan kualitas layanan, serta memperluas akses listrik demi mendukung pertumbuhan ekonomi nasional yang inklusif dan berkelanjutan.

Di balik tekanan pada laba bersih, BUMN sektor kelistrikan ini justru berhasil mencatatkan pertumbuhan positif dari sisi pendapatan. PLN membukukan total pendapatan sebesar Rp 582,68 triliun, atau naik 6,84% secara tahunan. Kenaikan signifikan ini ditopang oleh pertumbuhan volume penjualan tenaga listrik serta percepatan proses penyambungan pelanggan baru di berbagai wilayah Indonesia.

Menurut Darmawan, pencapaian ini merupakan cerminan keberhasilan pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi dan energi nasional di tengah dinamika global. Stabilitas tersebut menjadi fondasi krusial bagi PLN untuk menjaga kinerja operasional sekaligus memastikan kebutuhan listrik bagi masyarakat dan dunia usaha terpenuhi secara andal dan konsisten.

Advertisements

Secara operasional, jumlah penjualan tenaga listrik PLN tercatat meningkat 3,75% menjadi 317,69 Terawatt hour (TWh). Kapasitas daya tersambung pelanggan juga mengalami kenaikan sebesar 5,82% hingga mencapai total 192.621 Megavolt Ampere (MVA). Data ini menunjukkan bahwa permintaan energi listrik di tanah air terus merangkak naik seiring dengan aktivitas ekonomi yang kembali bergairah.

Sisi basis pelanggan juga mencatatkan pertumbuhan yang impresif. PLN berhasil menambah 3,3 juta pelanggan baru sepanjang tahun lalu, sehingga total pelanggan kini mencapai 96,2 juta. Pertumbuhan ini secara langsung mengerek pendapatan dari penyambungan pelanggan sebesar 28,4% menjadi Rp 2,24 triliun. Peningkatan ini menjadi indikator nyata tumbuhnya aktivitas ekonomi masyarakat dan sektor usaha di berbagai skala.

Menariknya, pertumbuhan tersebut tidak hanya didorong oleh penyambungan reguler, tetapi juga diperkuat melalui program Bantuan Pasang Baru Listrik (BPBL). Program strategis ini dirancang untuk menjangkau masyarakat di wilayah pelosok yang selama ini memiliki keterbatasan akses terhadap energi listrik.

Penyediaan akses listrik hingga ke daerah terpencil menjadi bagian integral dalam mendukung pemerataan pembangunan nasional. Darmawan menegaskan bahwa pemerintah bersama PLN terus bersinergi memastikan seluruh lapisan masyarakat dapat memperoleh akses listrik, sehingga tidak ada lagi warga yang tertinggal dalam kegelapan dan pembangunan ekonomi dapat dirasakan secara merata oleh seluruh rakyat Indonesia.

Ringkasan

PT PLN (Persero) mencatatkan laba bersih sebesar Rp 7,26 triliun pada tahun lalu, yang mengalami penurunan 59,12% dibandingkan tahun sebelumnya akibat kerugian selisih kurs sebesar Rp 12,46 triliun. Meskipun laba bersih tertekan oleh volatilitas mata uang global, perusahaan tetap menunjukkan ketahanan dengan mencatatkan total pendapatan sebesar Rp 582,68 triliun atau naik 6,84% secara tahunan.

Peningkatan pendapatan tersebut ditopang oleh pertumbuhan volume penjualan tenaga listrik sebesar 3,75% dan penambahan 3,3 juta pelanggan baru di seluruh Indonesia. Melalui strategi operasional dan program seperti Bantuan Pasang Baru Listrik, PLN terus berupaya memperluas akses energi nasional serta mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif di berbagai wilayah.

Advertisements