Prospek penjualan properti 2026 masih terbuka usai BI tahan suku bunga

Penjualan properti di Indonesia menunjukkan ketergantungan yang kuat pada dukungan pembiayaan melalui Kredit Pemilikan Rumah (KPR), terutama di tengah kebijakan strategis Bank Indonesia (BI) yang konsisten mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75 persen. Stabilitas ini menjadi fondasi penting yang membentuk optimisme di pasar real estat.

Advertisements

Direktur PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE), Hermawan Wijaya, menyoroti bahwa suku bunga BI merupakan salah satu faktor krusial yang dipertimbangkan konsumen saat memutuskan untuk membeli unit properti. Dengan keputusan BI untuk menahan suku bunga pada level saat ini, prospek penjualan unit properti di tahun 2026 dinilai masih sangat menjanjikan.

“Saya rasa dengan BI menahan tingkat suku bunga di level yang sekarang ini, peluang kita untuk menjual lebih banyak unit di tahun 2026 itu masih terbuka lebar ya,” ungkap Hermawan dalam konferensi pers Program National Sales 2026 bertajuk “Royal Key” yang diselenggarakan di Marketing Office BSD, Tangerang Selatan, pada Kamis (22/1). Pernyataan ini menegaskan kepercayaan industri terhadap kondisi makroekonomi saat ini.

Optimisme pasar ini semakin diperkuat oleh beragam program perbankan yang menawarkan skema suku bunga yang sangat kompetitif. Konsumen kini dapat memilih opsi bunga tetap (fixed rate) dengan berbagai tenor, mulai dari satu tahun, tiga tahun, hingga lima tahun. Hermawan bahkan menyebutkan bahwa untuk periode tertentu, tingkat bunga tetap yang ditawarkan oleh perbankan ini justru lebih rendah dibandingkan suku bunga acuan BI, sebuah keuntungan signifikan bagi para pembeli properti.

Advertisements

Selain faktor suku bunga, keberlanjutan kebijakan Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) hingga tahun 2026 juga memberikan stimulus yang substansial bagi minat beli properti. Harapan besar tersemat pada pemerintah untuk melanjutkan kebijakan ini. “Dan semoga pemerintah melihat efek dari PPN DTP ini bagus dan support bisnis dan itu bisa dilanjutkan di tahun selanjutnya,” kata Hermawan, menekankan dampak positif kebijakan tersebut terhadap sektor properti.

Dari perspektif makroekonomi, Hermawan menilai bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berada di kisaran 3-4 persen, meskipun belum mencapai target ideal 5 persen, masih dianggap cukup sehat untuk menopang bisnis properti. Ia memperkirakan bahwa kebutuhan akan hunian akan terus meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk, memastikan permintaan properti tetap terjaga stabil di masa mendatang.

“Permintaan rumah ini kan setiap tahun pasti akan meningkat karena jumlah penduduk yang juga meningkat ya,” lanjutnya, menegaskan hubungan langsung antara demografi dan pasar properti. Kemampuan konsumen untuk memiliki unit properti juga sangat terbantu oleh tingkat suku bunga KPR yang relatif rendah. Hermawan mencatat bahwa suku bunga KPR saat ini merupakan salah satu yang terendah, dengan beberapa penawaran bahkan berada di bawah 5 persen.

“Nah tentunya ini dijembatani oleh tingkat suku bunga yang cukup rendah ya saat sekarang ini kalau saya bilang,” Hermawan menjelaskan, menunjukkan bagaimana kondisi suku bunga menjadi jembatan utama bagi akses kepemilikan properti. Tersedia pula beragam pilihan tenor bunga tetap yang ditawarkan perbankan, mulai dari satu, tiga, lima, hingga 10 tahun, bahkan ada yang berlaku sepanjang tenor KPR. Selain KPR konvensional, kerja sama juga dilakukan untuk KPR syariah, termasuk skema imbal hasil tetap yang dapat berlaku hingga 15–20 tahun, disesuaikan dengan usia pemohon.

Berdasarkan pengamatannya, mayoritas konsumen cenderung memilih skema bunga tetap tiga hingga lima tahun. Menariknya, konsumen yang mengambil tenor panjang, seperti 10 hingga 15 tahun, umumnya mampu melunasi kredit mereka lebih cepat, rata-rata dalam waktu tujuh hingga delapan tahun. Ini mencerminkan kepercayaan diri konsumen terhadap kemampuan finansial jangka panjang mereka.

“Artinya sepanjang pertumbuhan ekonomi tetap terjaga dan meningkat, kemudian rasa aman customer kita itu ada terhadap sumber inkasnya setiap bulan, saya rasa properti atau rumah itu masih menjadi salah satu alternatif yang diminati,” Hermawan menyimpulkan, menggarisbawahi bahwa stabilitas ekonomi dan keamanan pendapatan adalah kunci utama yang membuat investasi properti tetap menarik bagi masyarakat.

Advertisements