
Implementasi prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) di sektor perusahaan batu bara Indonesia saat ini dinilai masih berada pada fase awal. Meski tren penerapan ESG menunjukkan pertumbuhan dalam beberapa tahun terakhir, fondasi yang diperlukan untuk mendukung transformasi nyata menuju energi rendah karbon masih perlu diperkuat secara signifikan.
Temuan ini terungkap dalam riset awal Katadata Green bertajuk Implementasi ESG untuk Transisi Energi dan Akselerasi Dekarbonisasi Industri Batu Bara. Hasil kajian tersebut dipaparkan dalam acara Media Workshop & Kolaborasi Liputan bertema Mengawal ESG dan Transisi Energi di Sektor Pertambangan, yang diselenggarakan oleh Yayasan Bicara Data Indonesia (YBDI) bersama Katadata Green di Jakarta, Rabu (13/5).
ESG Data Analyst Katadata Green, Fitria Purnamasari, mencatat bahwa implementasi ESG di sektor batu bara sempat menunjukkan penguatan pada periode 2021 hingga 2023. Namun, tren tersebut justru melambat pada tahun 2024. Berdasarkan data, median skor ESG sektor batu bara naik dari 40,0 pada 2021 menjadi 49,0 pada 2023, sebelum akhirnya terkoreksi turun menjadi 47,9 pada 2024. Penurunan juga terlihat pada pilar lingkungan, di mana median skor menyusut dari 55,5 menjadi 50,0.
Kesenjangan antara Komitmen dan Aksi Nyata
Menurut Fitria, angka-angka tersebut menunjukkan bahwa peningkatan skor ESG belum sepenuhnya mencerminkan kemajuan dekarbonisasi di lapangan. Meskipun banyak perusahaan tambang telah menuangkan komitmen ESG dalam laporan keberlanjutan, kebijakan internal, dan strategi transisi iklim, eksekusi operasionalnya dinilai masih belum konsisten.
Perusahaan batu bara cenderung berfokus pada instrumen pelaporan, kepatuhan, dan mitigasi risiko, namun belum menyentuh fondasi transformasi energi rendah karbon. Ketidakseimbangan antara komitmen administratif dan implementasi operasional terlihat dari data berikut:
| Indikator | 2023 | 2024 |
|---|---|---|
| Strategi Transisi Iklim | 66,67 | 66,67 |
| Manajemen Emisi | 59,88 | 41,71 |
| Manajemen Energi | 76,67 | 58,61 |
Lebih lanjut, Fitria menjelaskan bahwa ESG saat ini masih ditempatkan sebagai alat untuk efisiensi dan menjaga reputasi perusahaan, bukan sebagai pijakan utama dalam mengubah model bisnis. Ketergantungan terhadap batu bara sebagai penopang ekonomi nasional membuat perusahaan cenderung mengambil pendekatan yang sangat bertahap. Hambatan lainnya meliputi tekanan profitabilitas, kapasitas perusahaan yang tidak merata, hingga keterbatasan data yang mendetail hingga tingkat operasional anak usaha.
Hingga saat ini, pengaruh ESG terhadap keputusan bisnis strategis, seperti investasi, diversifikasi energi, dan perubahan portofolio, masih tergolong terbatas. ESG baru berperan pada aspek tata kelola, pengelolaan risiko, serta efisiensi energi, namun belum sepenuhnya menjadi jantung strategi bisnis perusahaan.
Sektor Batu Bara dalam Posisi Dilematis
Communication Strategist Katadata Green, Hanna Farah Vania, mengungkapkan bahwa sektor batu bara dipilih sebagai fokus riset karena perannya yang krusial, yakni menyumbang sekitar 60-65 persen terhadap produksi listrik nasional. Kondisi ini menciptakan posisi dilematis; di satu sisi batu bara adalah tulang punggung energi nasional, sementara di sisi lain, Indonesia dituntut untuk segera mengakselerasi target dekarbonisasi.
Senada dengan hal tersebut, CCO Katadata, Heri Susanto, menilai bahwa ESG dapat menjadi jalan tengah bagi perusahaan batu bara untuk tetap memberikan kontribusi ekonomi nasional di tengah meningkatnya tekanan global terhadap pengurangan emisi karbon. Riset Katadata Green sendiri dilakukan dengan menggabungkan analisis data sekunder dari laporan tahunan perusahaan serta wawancara mendalam dengan para pemangku kepentingan terkait.
Pentingnya Integrasi Data Berkelanjutan
Tantangan lain dalam implementasi ESG disampaikan oleh ahli Life Cycle Assessment sekaligus Expert Panel KESGI, Jessica Hanafi. Menurutnya, pemantauan emisi sering kali hanya berhenti pada Scope 1 dan Scope 2. Padahal, emisi Scope 3, yang mencakup barang operasional dan inovasi teknologi batubara bersih, memegang peran krusial dalam jejak karbon industri.
Jessica menambahkan bahwa perbandingan performa antarperusahaan sebaiknya menggunakan pendekatan intensitas emisi dan energi, bukan sekadar angka absolut. Hal ini bertujuan agar evaluasi kinerja menjadi lebih adil dan transparan. Melalui integrasi data yang lebih baik, Katadata Green berharap industri batu bara tidak hanya terjebak pada pemenuhan dokumen administratif, melainkan dapat mempercepat langkah nyata dekarbonisasi demi mewujudkan masa depan energi bersih yang lebih transparan di Indonesia.
Ringkasan
Implementasi prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) pada sektor batu bara di Indonesia masih berada pada tahap awal dengan fondasi yang perlu diperkuat. Riset Katadata Green mencatat adanya penurunan skor ESG pada tahun 2024, yang mengindikasikan adanya kesenjangan antara komitmen administratif dalam laporan keberlanjutan dengan aksi nyata di lapangan. Saat ini, ESG cenderung diposisikan sebagai alat untuk menjaga reputasi dan efisiensi operasional, alih-alih menjadi strategi utama untuk mengubah model bisnis perusahaan.
Sektor batu bara menghadapi posisi dilematis karena perannya sebagai penopang energi nasional di tengah tuntutan dekarbonisasi yang mendesak. Tantangan implementasi lainnya meliputi hambatan profitabilitas, keterbatasan data operasional, serta fokus pemantauan emisi yang masih terbatas pada Scope 1 dan 2. Integrasi data yang lebih baik dan penggunaan pendekatan intensitas emisi diperlukan agar industri batu bara dapat mempercepat dekarbonisasi secara lebih transparan dan adil.