Masuki Mei, IHSG dibayangi sentimen sell in May
IHSG memasuki Mei dengan sentimen “sell in May” di tengah ketidakpastian global dan isu MSCI, meski ada peluang rebound jika sentimen membaik.
IHSG memasuki Mei dengan sentimen “sell in May” di tengah ketidakpastian global dan isu MSCI, meski ada peluang rebound jika sentimen membaik.
Bursa Efek Indonesia akan buka kembali Senin (4/5/2026) setelah libur Hari Buruh. IHSG melemah sebelum libur, dipengaruhi oleh koreksi saham big caps.
IHSG tertekan akibat kebijakan MSCI yang menahan dana asing, memicu outflow hingga Rp15 triliun. Investor domestik berperan penting menyerap tekanan jual.
IHSG diprediksi uji level 7.000 pekan depan di tengah ketidakpastian global. Saham potensial: ADMR, ADRO, BFIN, ISAT, ULTJ, SRTG.
Tekanan dari sentimen MSCI dan pelemahan rupiah mendorong koreksi terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Saham konglomerasi seperti BREN dan BNBR memimpin penguatan IHSG pekan ini, naik 175,50 poin, dengan BREN berkontribusi terbesar sebesar 30,44 poin.
IHSG menguat 1,46% ke 7.609 pada 14 April 2026, didorong saham BREN, BBCA, dan TPIA. Penguatan didukung data ekonomi positif dan sentimen pasar.
IHSG diprediksi uji resistance 7.300-7.350 didorong koreksi harga minyak. Perhatikan saham BBNI, BBCA, UNVR, ISAT, ASII. Cadangan devisa RI turun.
IHSG diprediksi terkoreksi, saham BUMI, RAJA, MINA direkomendasikan beli saat lemah. Target harga BUMI Rp266-Rp280, RAJA Rp4.760-Rp5.200.
IHSG naik 4,42% didorong pengumuman FTSE dan gencatan senjata AS-Iran, meski ketidakpastian global masih membayangi. Reformasi pasar modal Indonesia terus berjalan.