IHSG Terjun Bebas: BUMI, BBRI, INET Jadi Biang Kerok?
IHSG turun 0,65% ke 8.545,86 pada 27/11/2025, dipengaruhi saham BUMI, BBRI, dan INET. Aksi profit taking dan outflow asing jadi faktor utama.
IHSG turun 0,65% ke 8.545,86 pada 27/11/2025, dipengaruhi saham BUMI, BBRI, dan INET. Aksi profit taking dan outflow asing jadi faktor utama.
Di tengah gelaran aksi rights issue, gerak saham INET, CBRE hingga GMFI terpantau beragam. Cek rekomendasinya.
IHSG tembus 8.500, rekor baru. Penguatan didorong rebalancing MSCI, net buy asing, dan likuiditas longgar. Waspadai koreksi dan sentimen global.
IHSG naik 0,52% ke 8.414,35, mencetak rekor tertinggi baru, sementara RNTH turun 8,45% pada pekan 17-21 November 2025. Kapitalisasi pasar naik 0,49%.
Reli pasar saham mendorong reksa dana mencatat pertumbuhan signifikan, dengan IHSG mencapai rekor tertinggi baru 15 kali pada 2025, meningkatkan prospek investasi.
IHSG menguat jelang pengumuman BI Rate, saham DEWA, BUMI, MDKA naik. IHSG dibuka di 8.384,36 dengan kapitalisasi pasar Rp15.355 triliun.
IHSG berpotensi menembus 8.500 menjelang pengumuman BI Rate pada 18-19 November 2025, didukung sentimen positif dan tren uptrend teknikal.
IHSG diprediksi menguat 17/11/2025, pantau saham HRTA, ESSA, SSMS. Analis rekomendasikan buy on weakness dengan target harga spesifik.
Saham blue chip seperti BBCA dan TLKM berpotensi naik didorong stimulus ekonomi Rp46 triliun dan penurunan suku bunga, meski kinerja tahun ini kurang impresif.
IHSG mencapai rekor tertinggi baru di 8.394,59 pada 3-7 November 2025. Sektor infrastruktur dan energi memimpin penguatan, sementara properti melemah.